CERPEN
DIA, AKU DAN KITA
Ninna adalah salah satu teman yang ku kenal pertama kali di kelas, aku bukanlah orang yang gampang bersosialisasi, tapi Ninna selalu mencairkan suasana bahkan kami satu kelas selalu tertarik akan cerita-cerita dari koleksi buku, novel, dan film yang dia tonton.
Hampir setiap pagi di jam sekolah Ninna selalu mendapat perhatian satu kelas. Suatu hari Ninna menceritakan novel baru saja dia selesaikan, saat itu aku dan Ninna dan temanku yang lain Nica sedang di balkon sekolah lantai 5. Kami melihat kebawah sambil memegangi besi balkon, lalu Ninna mulai bercerita "Hey, kalian pernah baca novel ini ?" Sambil menunjukan novelnya kepada kami. Kami menggelengkan kepala. Lalu aku pun bertanya "Novel tentang apa ini Nin ?". "Setiap kali aku berada di balkon lalu melihat ke bawah, dan merasakan angin dari balkon, aku selalu teringat akan novel ini". "Oya ? Apa yang membuatnya begitu teringat ?". Tanya Nica.
"Novel ini meyakinkan kita pembacanya, bahwa jika kita melompat dari balkon dan merasakan angin yang datang, kita akan terbang". Lanjut Ninna.
"Waw, agak ngeri yaa". Jawabku. Obrolan kami terpisah oleh bel masuk pelajaran pertama, kami bertiga masuk ke kelas. Ninna adalah seorang yang cukup aktif di kelas selalu berani mengutarakan pendapatnya.
Ninna menurutku adalah seorang yang cukup berbeda dengan orang yang pernah aku kenal, buku bacaan yang dia baca, film yang dia tonton tentu mempengaruhi pola pikirnya.
Setelah pelajaran pertama selesai, rupanya pelajaran kedua guru kami berhalangan hadir, tapi kami mendapat tugas untuk menonton film pendek secara berkelompok dan menentukan 'Ending' atau bagaimana cerita ini 'Selesai'.
Aku, Ninna dan Nica satu kelompok. Kami terlebih dahulu menentukan 'Ending' dari film ini masing-masing. Sudah kuduga mayoritas kami menentukan 'Ending' film pendek ini adalah 'Happy Ending'. Namun berbeda dengan Ninna, dia menentukan akhir ceritanya dengan seluruh karakter di film tersebut meninggal terbunuh. Awalnya aku cukup merasa ada yang aneh dengan Ninna, sampai suatu hari aku pergi ke tempat tinggalnya. Dia tinggal sendiri, ayahnya sudah meninggal dan ibunya tinggal di Jakarta. Menjadi seorang peramal.
Setelah kami hampir kenal selama 2 tahun, kami mendapat kabar bahwa ibunya Ninna meninggal dunia. Ninna tidak dapat menghadiri pemakaman ibunya, dia dilarang oleh neneknya. Aku juga tidak bisa melakukan banyak hal selain menemaninya.
Satu minggu berlalu, Ninna semakin banyak murung bahkan mulai menjauhi Aku dan Nica. Besoknya Ninna tidak masuk sekolah dan tidak ada yang bisa kami hubungi. Tiga hari Ninna tidak masuk sekolah kami mulai khawatir, Aku dan Nica memutuskan pergi ke tempat tinggal Ninna, tapi Ninna tidak ada disana.
Tidak banyak yang bisa kami lakukan, aku dan Nica sudah tidak tau lagi harus melakukan apa.
Akhirnya setelah dua minggu berlalu, kami berdua menemukan titik terang, bahwa Ninna ternyata pergi ke Jakarta mendatangi makam ibunya, setelah Ninna pulang dari makam ibunya, Ninna pergi menemui teman ibunya di Jakarta. Teman ibunya sengaja datang ke Bandung dan menemui kami dan memberikan kertas dari Ninna. Setelah kami membaca surat itu kami akhirnya tau bahwa Ninna sudah terbang menemui ibunya.
Komentar
Posting Komentar